Deskripsi Biografi Tokoh
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr.Wb
Hallo guys... Selamat datang di blog Nurul Huda. Semoga kalian semua tetap dalam keadaan sehat dan bahagia yaaaa.. Oke langsung saja, di blogku kali ini aku akan mendeskripsikan biografi tokoh🍡
Saya memilih: Ibu💛
Ibuku bernama Isrita, biasanya orang memangilnya dengan sebutan “Ita”, dan yang sudah akrab memanggilnya dengan sebutan “makde” karena beliau merupakan anak ke tiga dari Sembilan bersaudara.
Beliau lahir di Gersik, 15 Juli 1979. beliau memiliki bentuk muka yang oval, rambut yang ikal, bibir yang sedikit tebal, mata yang sipit, dan hidung yang sedikit mancung serta memiliki kulit yang sawo matang.
Beliau sosok seorang ibu yang biasanya aku panggil dengan sebutan “umak”. Beliau adalah sosok wanita yang sangat hebat dalam hidupku, sosok wanita yang tidak ada duanya, dimana beliau merupakan sosok wanita yang tangguh, sosok pahlawan tanpa saja, yang bahkan Nabi pun sangat memuliakan sosok seorang ibu. Ibuku sosok wanita yang cantik, yang aku beri gelar dengan sebutan bidadari tanpa sayap, yang Insya Allah surga untuknya.
Seperti yang aku katakan tadi, ibu merupakan sosok wanita yang tangguh dimana beliau mampu menahan beratnya membawa kandungan selama Sembilan bulan, sosok yang rela mempertaruhkan nyawanya demi sang buah hatinya. Dia menjaga dan merawat anaknya dengan penuh kasih sayang yang sangat tulus.
Tidak hanya itu walaupun beliau bersandang sebagai seorang ibu dan seorang istri, beliau merupakan seorang ibu dan istri yang sangat pekerja keras yang tidak hanya berpangku tangan dirumah. Sosok yang selalu ada untuk anaknya dan untuk suaminya. Sosok yang pandai mengkorting waktu, kapan dia membagi waktu untuk keluarga dan juga waktu untuk bekerja tanpa melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri.
Ibu adalah seorang wanita yang paling saya kagumi dimana dia bisa menjadi siapa saja untuk anaknya. Yang paling saya ingat ketika dia mengajarkan saya untuk menyebut huruf “R” padahal dia sendiri tidak bisa menyebut huruf “R” disitu saya melihat betapa hebatnya ibuku, dia bisa mengajarkan sesuatu yang dia sendiri pun tidak bisa. Dia yang banyak mengajarkan tentang arti kehidupan, sosok ibu yang tidak pernah memperlihatkan rasa lelahnya yang telah bekerja, mengurus anak dan suaminya, dia juga yang tidak pernah sama sekali memperlihatkan betapa sedihnya dia jika anaknya sakit atau dia mengalami masalah, yang aku lihat hanyalah dia selalu memperlihatkan lengkungan manis di bibirnya.
Ibu yang ku kenal ialah sosok ibu yang tidak pernah membentak anaknya, mencubit anaknya, kadang hanya sedikit rewel, marah itu pun disebabkan oleh kenakalan kami, wajar saja jika ibuku marah. Marahnya juga mendidik bukan menghardik yang mepertandakan bahwa dia begitu sangat menyayangi anaknya.
Bicara tentang sosok seorang ibu tentu sangat banyak yang inginku ceritakan tentangnya. Ibu yang mebuatku sangat nyaman sehingga aku merasa ibu adalah sosok orang tua sekaligus teman baik ku. Dimana ketika aku sendiri di kamarku, beliau sering menghampiriku ke kamar untuk meminta aku untuk menceritakan semua masalahku. Baik tentang percintaan, pertemanan, suka dukanya aku, beliau selalu menjadi teman cerita yang sangat baik, yang dapat menjaga rahasia anaknya dan memberikan masukan yang baik, beliau begitu paham dan bisa menyesuaikan diri karena beliau dulu juga pernah berada di masa-masa umurku.
Ibu adalah sosok orang yang paling mengerti akan keinginanku, kadang aku tidak meminta sesuatu kepada ibuku, hanya saja biasanya aku menyebutnya ingin memiliki sesuatu barang yang aku inginkan, tapi dia begitu paham dengan persaanku. Selang waktu kemudian ketika dia pergi ke pasar dan pulang dari pasar beliau sudah membawa barang yang aku inginkan padahal aku tidak meminta ibuku untuk membeli sesuatu untukku.
Selama masuk kuliah, aku sering begadang untuk mengerjakan tugas-tugas yang dosen berikan. Ibuku yang biasanya setelah sholat isya beliau sudah langsung tidur, beliau bangun dari tempat tidurnya hanya untuk memastikan apakah aku sudah tidur atau belum, ketika beliau melihat aku belum tidur beliau langsung memerintahkanku untuk segera tidur. Setelah itu baru beliau kembali ke kamarnya untuk tidur kembali, kadang beliau juga bangun dari tidurnya untuk menanyakan kenapa aku tidak makan. Padahal aku sudah besar jadi tidak perlu untuk selalu di ingatkan. Padahal aku tau betapa kantukya ibuku, pagi-pagi harus pergi untuk bekerja tapi begitulah cinta seorang ibu terhadap anaknya begitu besar, sehingga dia melawan rasa kantuk demi untuk anaknya.
Selain memiliki sifat yang perhatian, ibuku juga memiliki tutur kata yag baik, dan juga penyabar. Beliau ini juga jago memasak dan membuat kue, mungkin ayahku jatuh cinta karena masakan ibuku, apalagi masak rendang jengkol hee menurutku masakan ibuku paling enak seperti masakan restoran bintang lima.
Mengingat ibuku juga jago membuat kue aku teringat akan suatu hal. Dulu ketika ibuku membuat kue untuk lebaran, kue yang di masaknya itu gosong karena kelakuan adikku. Melihat kue yang dibuatnya gosong, ibuku langsung untuk memerintahkan adikku untuk menjauh tanpa marah sedikit pun, aku dan pamanku saling menatap heran dengan sikap ibuku, sampai pamanku berkata seperti ini kepada ibuku “De kau sangat begitu sabar”. Sepeti yang aku katakan tadi ibuku memiliki sifat sabar, tapi kadang ketika aku atau adikku buat kesalahan kadang dia juga marah.
Sekarang ibuku sudah tidak lagi muda, garis keriput pun sudah terlihat di pipinya. Walau pun tidaklah lagi muda, tapi pipi beliau terlihat sangat glowing padahal ibuku tidak menggunakan produk kecantikan apapun, apalagi dibagian hidungnya sangat terlihat sekali seperti kaca yang bersinar bersih, entah amalan apa yang beliau lakukan aku pun tidak tau, mungkin air wudhu yang selalu membasahi mukanya.
Lengkungan manis di bibirnya yang selalu kudapatkan setiap harinya yang membuatnya terlihat awet muda dan sangat cantik. Lengkungan manis di bibirnya yang membuatku merasa senang dan tenang karena aku berfikir ketika ibuku tersenyum Insya Allah beliau menandakan bahwa beliau sedang baik-baik saja, bahagia dan lengkungan manis di bibirnya itu aku berfikir bahwa Insya Allah, Allah pun sedang tersenyum kepadaku.
Terimakasih ibu kau begitu banyak mengajarkanku tentang bagaimana cara menghadapi kerasnya kehidupan, dan mengajarkan tentang kasih sayang, kesabaran dan lain-lain dan aku juga berterima kasih kepada ayahku karena telah banyak berkorban untuk ibu, aku dan adikku dan engkau merupakan My First Love.
Disini aku banyak menceritakan tentang ibuku karena kebetulan aku sedang mendeskripsikan tentang ibuku. Tapi kalian itu sama ayah ibu, sama-sama banyak memberikan cinta, kasih sayang yang sesungguhnya, cinta dan kasih sayang yang tulus.
Sehat selalu ayah dan ibuku, aku sangat bangga sebagai anak kalian dan aku sangat mencintai dan menyayangi kalian. Aku selalu mendoakan kalian setelah selesai dari sholat-sholatku, semoga lelah kalian mejadi lillah. Amin Allahumma amin.
Yah itulah deskripsi dari bidadari tanpa sayapku.
Sekian terima kasih
Wassalamualaikum Wr.Wb.




Tabarakallah, sayangi terus ibu kita
BalasHapusAlways bang
BalasHapus